Anda malas untuk memikirkan bisnis tapi ingin sukses? Anda baru belajar
bisnis dan ingin langsung sukses? Anda berbisnis sambil kerja tapi bisnis
tetap jalan dengan sukses? Jawabnya: cari mentor bisnis!
Istilah mentor bisnis atau business coach baru dikenal dalam dunia bisnis
belakangan ini. Padahal prakteknya sudah lama dilakukan secara tidak sengaja
di lingkungan bisnis. Mentor bisnis adalah seorang pelaku bisnis yang telah
berpengalaman kemudian membagikan ilmunya kepada pebisnis yang baru mulai
usaha. Di masyarakat kita banyak dipraktekkan misalnya seorang ayah yang
membimbing anaknya atau seorang paman membimbing keponakan.
*Kenapa kita perlu mentor?
*Dengan bimbingan seorang mentor si pemula bisa belajar dan menduplikasi
dari pengalaman sukses sang mentor. Jadi si pemula bisa mengurangi risiko
kesalahan bila melakukan dengan caranya sendiri melalui coba-coba. Dengan
demikian dia bisa menghemat waktu, uang dan tenaga yang terbuang bila harus
coba dan gagal (trial and error).
Dalam dunia bisnis modern, cara ini banyak dipraktekkan. Contohnya dalam
bisnis pemasaran jaringan atau multilevel marketing dan bisnis waralaba. Di
bisnis MLM, keberhasilan seseorang sangat ditentukan dari sejauh mana ia
bisa mencontoh dari seniornya yang sudah lebih dulu berhasil. Begitu pula di
bisnis waralaba. Kita tinggal mencontoh sistim bisnis yang telah teruji
berhasil selama ini.
*Bagaimana caranya mencari mentor?
*
*Belajar kepada kerabat dekat atau atasan.
*Cara ini banyak dipraktekkan di masyarakat kita. Misalnya seorang kemenakan
belajar kepada pamannya, atau seorang pengusaha yang sudah sukses kemudian
membimbing karyawannya. Biasanya orang yang sudah sukses dengan suka rela
membagikan ilmunya. Orang yang sudah sukses biasanya punya sifat
keberlimpahan (abundance). Dia senang bersedekah, memberi ilmu kepada orang
lain dan sebagainya. Cara belajar inilah yang paling efektif, karena belajar
secara langsung. Sudah banyak kita saksikan contoh sukses melalui cara ini.
*Mempunyai mentor pribadi
*Sudah menjadi tren belakangan ini, yaitu mempunyai mentor pribadi yang
bertindak sebagai guru pribadi yang akan mengajari kita seluk-beluk bisnis
yang tidak kita ketahui. Dengan pertemuan rutin, seorang mentor akan
membimbing selangkah-demi selangkah muridnya untuk menjalankan bisnis. Sudah
ada beberapa lembaga dan pribadi yang melakukan hal ini di Indonesia,
seperti: Tung Desem Waringin, Action International (Brad Sugars), Jaringan
Pengusaha Muslim Indonesia (JPMI), Entrepreneur University, PT. Menara Kadin
Indonesia, dll. Bisnis saya kembali sehat setelah dibimbing secara pribadi
oleh Bapak Tung Desem Waringin. Terima kasih Pak Tung!
*Melalui buku, kaset atau internet*
Bisa melalui buku-buku, audio book atau website dari orang yang telah sukses
kita bisa memperoleh banyak pelajaran berharga. Contohnya: Jay Conrad
Levinson (Penulis buku Guerilla Marketing), Michael E. Gerber (Penulis buku
E-Myth), Anthony Robbins (Penulis Awaken the Giant Within), Harvey Mackay,
Brian Tracy, Zig Ziglar, dll. Saat ini di radio juga banyak mentor yang
siaran melalui radio seperti di SmartFM, Pas FM, Ramako dll.
*Melalui seminar atau pelatihan*
Hampir tiap minggu seminar bisnis dan pengembangan pribadi banyak
diselenggarakan di Indonesia. Kita bisa memperoleh banyak pelajaran darinya.
Seminar-seminar dan pelatihan yang diselenggarakan oleh pembicara seperti
Tung Desem Waringin, James Gwee, Kafi Kurnia, Hermawan Kartajaya, Ary
Ginanjar, Mario Teguh, Rhenald Kasali, begitu diminati saat ini.
*Apakah menggunakan mentor pasti sukses?* Tidak, kalau nasihat mentor
tersebut tidak anda lakukan. Pada saat mulai mentoring , saya banyak
menganalisa dan membantah. Saya sering mengatakan bahwa idenya mentor itu
mustahil atau tidak masuk akal. Akhirnya setelah saya mulai ‘nurut’, nggak
banyak mikir dan punya sikap mau mencoba, maka hasilnya mulai terlihat.
Kesimpulannya, *saat ini begitu gampang untuk menjadi sukses, karena
sumber-sumber ilmunya berlilmpah.* Buku, internet, majalah, radio, seminar,
pelatihan mengenai pembelajaran bisnis banyak tersebar. Tinggal dipungut.
Tidak seperti dulu, waktu saya kuliah, sangat sulit mencari sumber-sumber
pengetahuan bisnis praktis seperti saat ini. Untungnya, saya sempat ikut MLM
yang cukup banyak membantu saya mengembangkan pribadi dan wawasan bisnis.
--
Wassalam,
Badroni Yuzirman,
TDA JKT 0000001-0106
www.manetvision.com I www.roniyuzirman.com I Y!M: roniyuzirman I HP 0812 100
8164
Sebuah Proses Perubahan yang Panjang...dari Seekor Ulat yang Jelek Menjadi Kupu-kupu Yang Indah dan Bebas Terbang
Saling tukar ilmu...cara murah untuk Sukses bersama
Ada tiga tukang sulap, yaitu tukang sulap A, B dan C. Masing-masing mereka
punya satu trik sulap yang berbeda. Satu tukang sulap hanya punya satu trik.
Kemudian mereka saling bertukar trik sulap. Jadi, setiap tukang sulap
akhirnya punya tiga trik sulap. Masing-maling pesulap tentunya telah
mengeluarkan biaya tertentu untuk mempelajari trik andalannya tersebut.
Dengan saling bertukar ilmu, mereka jadi punya trik lebih banyak dan bisa
menarik penonton lebih banyak tanpa keluar biaya besar.
Dalam dunia bisnis, kita tidak mungkin punya semua keahlian. Mungkin ada
yang jago marketing saja, ada yang lihai produksi saja, ada yang ahli di
teknologi saja, ada yang pakar di SDM dan seterusnya. Bagaimana caranya agar
semua ilmu bisa dikuasai oleh masing-masing pebisnis? Kalau perusahaannya
sudah besar, gampang, tinggal menggaji orang ahli atau cari konsultan yang
mahal. Tapi, kalau masih perusahaan kecil, tentu hal ini jadi kendala
terutama dari segi biaya dan waktu.
Untuk mengatasi kendala biaya dan waktu, masing-masing pengusaha dengan
keahlian berbeda itu bisa saling tukar ilmu. Mereka kemudian membuat
kelompok. Si A yang ahli marketing tapi lemah di produksi saling bertukar
ilmu denan si B yang ahli produksi tapi lemah di marketing. Si C yang jago
teknologi saling tukar ilmu dengan si D yang menguasai SDM. Demikian
terbentuklah suatu kelompok yang saling mendukung dan saling membantu satu
sama lain, untuk kemajuan bersama.
Cara seperti ini sudah banyak dikenal dengan Master Mind Group atau Kelompok
Pemikir Utama. Mark Victor Hansen dan Robert Allen banyak menulis tentang
ini dalam bukunya ‘One Minute Millionaire” dan “Kekuatan dari Fokus”.
Anthony Robbins mempraktekkan dengan membentuk Master Mind Group yang
beranggotakan pebisnis dengan pendapatan minimal 10 juta dollar per tahun.
Pak Tung Desem Waringin pernah cerita kepada saya bahwa dia juga punya grup
seperti ini yang bertemu sebulan sekali. Untuk pertemuan rutin ini, dia akan
menolak tawaran seminar bila jadwalnya bentrok dengan pertemuan grup
tersebut. Katanya, di antara anggota yang lain, saat itu Pak Tung adalah
anggota yang paling miskin!
*Ide saling tukar ilmu ini bisa diterapkan dengan cara lain seperti:
*- *Saling tukar koleksi buku, modul pelatihan, kaset/CD dll.* Ini sudah
saya lakukan dengan beberapa teman. Jadi, setiap akan bertemu, kami
masing-masing membawa sesuatu untuk dipertukarkan, misalnya saya membawa
buku “Multiple Streams of Income”-nya Robert Allen sedangkan kawan saya
membawa CD “Wealth Dynamic”-nya Roger Hamilton.
- *Saling tukar ilmu dari seminar atau pelatihan yang diikuti.* Bisa juga
dua orang kawan masing-masing ikut seminar yang berbeda, kemudian saling
berbagi ilmu yang didapat. Kawan saya pernah patungan dengan beberapa
temannya untuk memodali salah satu di antara mereka untuk berangkat
pelatihannya Robert Kiyosaki di Hawaii. Anggota yang berangkat itu kemudian
ditugasi untuk mengajari ilmu yang diperolehnya tersebut kepada anggota yang
tidak berangkat.
- *Membentuk Master Mind Group.* Anggotanya antara 5 sampai 7 orang saja
dengan syarat misalnya perusahaannya punya omset minimal 5 milyar setahun
dan dari bidang usaha yang berbeda. Grup ini bertemu sebulan sekali dengan
agenda menceritakan perkembangan dan masalah bisnis yang dihadapi.
Masing-masing anggota bisa memberi saran atau ide mengenai permasalahan yang
dihadapi anggota yang lain. Demikian seterusnya.
- *Mengikuti Mailing List bisnis.* Di sini setiap anggota bisa saling
berbagi cerita dan informasi yang bermanfaat bagi yang lainnya. Melalui
mailing list juga bisa ditemukan kontak-kontak bisnis yang sedang dicari,
misalnya seorang pedagang akhirnya bertemu supplier produk yang dicarinya.
Mailing list juga bisa dilanjutkan dengan acara pertemuan “off air” seperti
yang dilakukan oleh Mailing list Kuadran Empat, Marketing Club dan
sebagainya. Saya sendiri merasakan banyak manfaat dari mengikuti mailing
list.
Masih banyak lagi yang bisa dilakukan dalam rangka saling bertukar ilmu
untuk sukses bersama ini. Mungkin anda juga sudah menerapkannya. Sebagai
penutup, saya punya cerita menarik. Beberapa bulan lalu saya berencana untuk
ikut pelatihan Jay Abraham di Singapura. Biayanya sekitar 19 juta rupiah.
Singkat cerita, saya berkenalan dengan seseorang di sebuah seminar. Saya
ceritakan rencana saya tersebut. Dia menyarankan supaya saya membatalkan
niat tersebut. Sebab, dia punya dua modul yang akan disampaikan dalam
pelatihan tersebut. Dia akan berikan fotokopinya, saya tinggal ganti
ongkosnya saja. Akhirnya, saya dapat modul tersebut dengan uang hanya
seratus ribu saja!
Mari kita saling tukar ilmu untuk kesuksesaan bersama. Semoga bermanfaat
--
Wassalam,
Badroni Yuzirman,
TDA JKT 0000001-0106
www.manetvision.com I www.roniyuzirman.com I Y!M: roniyuzirman I HP 0812 100
8164
punya satu trik sulap yang berbeda. Satu tukang sulap hanya punya satu trik.
Kemudian mereka saling bertukar trik sulap. Jadi, setiap tukang sulap
akhirnya punya tiga trik sulap. Masing-maling pesulap tentunya telah
mengeluarkan biaya tertentu untuk mempelajari trik andalannya tersebut.
Dengan saling bertukar ilmu, mereka jadi punya trik lebih banyak dan bisa
menarik penonton lebih banyak tanpa keluar biaya besar.
Dalam dunia bisnis, kita tidak mungkin punya semua keahlian. Mungkin ada
yang jago marketing saja, ada yang lihai produksi saja, ada yang ahli di
teknologi saja, ada yang pakar di SDM dan seterusnya. Bagaimana caranya agar
semua ilmu bisa dikuasai oleh masing-masing pebisnis? Kalau perusahaannya
sudah besar, gampang, tinggal menggaji orang ahli atau cari konsultan yang
mahal. Tapi, kalau masih perusahaan kecil, tentu hal ini jadi kendala
terutama dari segi biaya dan waktu.
Untuk mengatasi kendala biaya dan waktu, masing-masing pengusaha dengan
keahlian berbeda itu bisa saling tukar ilmu. Mereka kemudian membuat
kelompok. Si A yang ahli marketing tapi lemah di produksi saling bertukar
ilmu denan si B yang ahli produksi tapi lemah di marketing. Si C yang jago
teknologi saling tukar ilmu dengan si D yang menguasai SDM. Demikian
terbentuklah suatu kelompok yang saling mendukung dan saling membantu satu
sama lain, untuk kemajuan bersama.
Cara seperti ini sudah banyak dikenal dengan Master Mind Group atau Kelompok
Pemikir Utama. Mark Victor Hansen dan Robert Allen banyak menulis tentang
ini dalam bukunya ‘One Minute Millionaire” dan “Kekuatan dari Fokus”.
Anthony Robbins mempraktekkan dengan membentuk Master Mind Group yang
beranggotakan pebisnis dengan pendapatan minimal 10 juta dollar per tahun.
Pak Tung Desem Waringin pernah cerita kepada saya bahwa dia juga punya grup
seperti ini yang bertemu sebulan sekali. Untuk pertemuan rutin ini, dia akan
menolak tawaran seminar bila jadwalnya bentrok dengan pertemuan grup
tersebut. Katanya, di antara anggota yang lain, saat itu Pak Tung adalah
anggota yang paling miskin!
*Ide saling tukar ilmu ini bisa diterapkan dengan cara lain seperti:
*- *Saling tukar koleksi buku, modul pelatihan, kaset/CD dll.* Ini sudah
saya lakukan dengan beberapa teman. Jadi, setiap akan bertemu, kami
masing-masing membawa sesuatu untuk dipertukarkan, misalnya saya membawa
buku “Multiple Streams of Income”-nya Robert Allen sedangkan kawan saya
membawa CD “Wealth Dynamic”-nya Roger Hamilton.
- *Saling tukar ilmu dari seminar atau pelatihan yang diikuti.* Bisa juga
dua orang kawan masing-masing ikut seminar yang berbeda, kemudian saling
berbagi ilmu yang didapat. Kawan saya pernah patungan dengan beberapa
temannya untuk memodali salah satu di antara mereka untuk berangkat
pelatihannya Robert Kiyosaki di Hawaii. Anggota yang berangkat itu kemudian
ditugasi untuk mengajari ilmu yang diperolehnya tersebut kepada anggota yang
tidak berangkat.
- *Membentuk Master Mind Group.* Anggotanya antara 5 sampai 7 orang saja
dengan syarat misalnya perusahaannya punya omset minimal 5 milyar setahun
dan dari bidang usaha yang berbeda. Grup ini bertemu sebulan sekali dengan
agenda menceritakan perkembangan dan masalah bisnis yang dihadapi.
Masing-masing anggota bisa memberi saran atau ide mengenai permasalahan yang
dihadapi anggota yang lain. Demikian seterusnya.
- *Mengikuti Mailing List bisnis.* Di sini setiap anggota bisa saling
berbagi cerita dan informasi yang bermanfaat bagi yang lainnya. Melalui
mailing list juga bisa ditemukan kontak-kontak bisnis yang sedang dicari,
misalnya seorang pedagang akhirnya bertemu supplier produk yang dicarinya.
Mailing list juga bisa dilanjutkan dengan acara pertemuan “off air” seperti
yang dilakukan oleh Mailing list Kuadran Empat, Marketing Club dan
sebagainya. Saya sendiri merasakan banyak manfaat dari mengikuti mailing
list.
Masih banyak lagi yang bisa dilakukan dalam rangka saling bertukar ilmu
untuk sukses bersama ini. Mungkin anda juga sudah menerapkannya. Sebagai
penutup, saya punya cerita menarik. Beberapa bulan lalu saya berencana untuk
ikut pelatihan Jay Abraham di Singapura. Biayanya sekitar 19 juta rupiah.
Singkat cerita, saya berkenalan dengan seseorang di sebuah seminar. Saya
ceritakan rencana saya tersebut. Dia menyarankan supaya saya membatalkan
niat tersebut. Sebab, dia punya dua modul yang akan disampaikan dalam
pelatihan tersebut. Dia akan berikan fotokopinya, saya tinggal ganti
ongkosnya saja. Akhirnya, saya dapat modul tersebut dengan uang hanya
seratus ribu saja!
Mari kita saling tukar ilmu untuk kesuksesaan bersama. Semoga bermanfaat
--
Wassalam,
Badroni Yuzirman,
TDA JKT 0000001-0106
www.manetvision.com I www.roniyuzirman.com I Y!M: roniyuzirman I HP 0812 100
8164
Engkau tidak akan lebih kaya dari teman-temanmu
Ada sebuah kata-kata bijak yang patut kita renungkan, “ jika engkau ingin mengetahui seseorang lihat siapa temannya”. Disamping itu banyak pula peribahasa atau pepatah yang mendukung kebenaran dari kata-kata tersebut. Seperti jika engkau bergaul dengan pedagang minyak wangi engkau akan mendapat harumnya. Sebaliknya jika engkau bergaul dengan tukang pandai besi engkau akan kena apinya. Atau pepatah lain yang berbunyi “ burung yang warna bulunya sama akan terbang bersama-sama”.
Difinisi teman disini adalah orang sering bersama dengan kita. Baik itu istri, anak atau orang lain. Dan orang yang paling mempengaruhi atau menentukan hidup kita adalah orang yang paling banyak menghabiskan waktu bersama-sama kita.
Sebagaimana pepatah diatas, bahwa burung yang warna bulunya sama akan terbang bersama-sama. Maka manusiapun juga akan berperilaku yang serupa. Orang yang malas, akan bergaul atau berteman akrab dengan orang yang sama malasnya. Tidak mungkin orang yang rajin mau berteman akrab dengan orang malas. Karena mereka mempunyai prinsip yang berbeda. Orang yang malas, berprinsip hidup adalah hidup tidak ada artinya apa-apa. Sehingga waktu yang mereka miliki tidak ada harganya. Sementara orang yang rajin berprinsip hidup adalah pertanggungjawaban yang harus diisi dengan kerja dan karya yang baik dengan optimal. Oleh karena itu waktu bagi mereka sangat berharga.
Begitu pula orang yang suka berhemat dalam mengatur keuangan ,selalu mencari cara bagaimana agar uang yang dimiliki dapat berkembang menjadi besar dan selalu ingin maju akan sulit bergaul dengan orang yang boros. Orang yang berhemat akan merasa sayang membelanjakan uangnya untuk mengikuti sikap boros temannya. Dan orang yang boros akan merasa tertekan bergaul dengan orang dianggapnya pelit tersebut. Oleh karena itu mereka sulit untuk menjadi teman akrab.
Orang yang memiliki kemauan untuk maju, akan merasa senang jika temannya bercerita tentang kemajuan yang telah dicapai dan impian yang akan diraihnya. Bahkan mereka akan memberi saran dan dukungan agar impian temanya segera tercapai. Sementara jika anda bercerita kemajuan dan impian-impian yang akan anda raih kepada oarng yang malas, akan timbul rasa iri dan menganggap anda bermimpi disiang hari bolong. Alih-alih mereka akan mendukung dan memberi saran kepada anda, tetapi mereka justru mematahkan semangat anda. “ ah jangan, ngibullah. Hiduplah yang realities.” Katanya seperti layaknya orang bijak saja. Jika anda bergaul dengan orang malas dan pesimistis energy positip dan semangat anda akan tersedot. Sehingga akhirnya anda akan cenderung seperti mereka, malas dan pesimis.
Sikap rajin , hemat dan selalu ingin maju adalah salah satu kebiasaan orang sukses dan kaya. Sementara sikap malas dan boros baik itu boros terhadap waktu, tenaga dan harta yang dimiliki adalah sikap orang miskin. Dengan demikian maka benarlan judul diatas, “ Engkau tidak akan lebih kaya dari teman anda”.
Dengan melihat kenyataan diatas maka kita harus pandai-pandai didalam memilih teman akrab. Jika anda ingin menjadi orang yang sukses, kaya dan mulia maka berteman akrablah dengan orang-orang yang sudah mendapatkan gelar tersebut menurut pandangan anda. Jika anda merasa tertekan bergaul dengan mereka itu dikarenakan kebiasaan dan prinsip anda dengan mereka berbeda. Itu artinya prinsip dan kebiasaan anda harus diubah dan disesuaikan dengan kebiasaan mereka.
Jika anda tahan dan terus mau bergaul dengan mereka, saya yakin anda akan bisa menyamai mereka atau paling tidak dibawah sedikit dari mereka. Seandainya anda saat ini berada pada level 25 % kemudian anda bergaul dengan orang berlevel 100 %, bukankah itu berarti anda sudah sangat beruntung jika anda bisa naik menjadi 75 % saja?
Oleh karena itu mantapkah langkah anda untuk bergaul dengan orang-orang yang kesuksesannya juah berada diatas anda.
Mungkin barangkali anda merasa minder atau takut bergaul dengan orang-oarng sukses. Mana munkin mereka menerima kita. Mereka kan sibuk. Itu anggapan anda? Apakah mereka dekimikian. Ternyata tidak. Orang sukses memang sibuk tetapi mereka sangat menghargai orang lain dan berkeinginan kesusksesannya diturunkan pada orang lain.
Salam sukses. See you in the top
Difinisi teman disini adalah orang sering bersama dengan kita. Baik itu istri, anak atau orang lain. Dan orang yang paling mempengaruhi atau menentukan hidup kita adalah orang yang paling banyak menghabiskan waktu bersama-sama kita.
Sebagaimana pepatah diatas, bahwa burung yang warna bulunya sama akan terbang bersama-sama. Maka manusiapun juga akan berperilaku yang serupa. Orang yang malas, akan bergaul atau berteman akrab dengan orang yang sama malasnya. Tidak mungkin orang yang rajin mau berteman akrab dengan orang malas. Karena mereka mempunyai prinsip yang berbeda. Orang yang malas, berprinsip hidup adalah hidup tidak ada artinya apa-apa. Sehingga waktu yang mereka miliki tidak ada harganya. Sementara orang yang rajin berprinsip hidup adalah pertanggungjawaban yang harus diisi dengan kerja dan karya yang baik dengan optimal. Oleh karena itu waktu bagi mereka sangat berharga.
Begitu pula orang yang suka berhemat dalam mengatur keuangan ,selalu mencari cara bagaimana agar uang yang dimiliki dapat berkembang menjadi besar dan selalu ingin maju akan sulit bergaul dengan orang yang boros. Orang yang berhemat akan merasa sayang membelanjakan uangnya untuk mengikuti sikap boros temannya. Dan orang yang boros akan merasa tertekan bergaul dengan orang dianggapnya pelit tersebut. Oleh karena itu mereka sulit untuk menjadi teman akrab.
Orang yang memiliki kemauan untuk maju, akan merasa senang jika temannya bercerita tentang kemajuan yang telah dicapai dan impian yang akan diraihnya. Bahkan mereka akan memberi saran dan dukungan agar impian temanya segera tercapai. Sementara jika anda bercerita kemajuan dan impian-impian yang akan anda raih kepada oarng yang malas, akan timbul rasa iri dan menganggap anda bermimpi disiang hari bolong. Alih-alih mereka akan mendukung dan memberi saran kepada anda, tetapi mereka justru mematahkan semangat anda. “ ah jangan, ngibullah. Hiduplah yang realities.” Katanya seperti layaknya orang bijak saja. Jika anda bergaul dengan orang malas dan pesimistis energy positip dan semangat anda akan tersedot. Sehingga akhirnya anda akan cenderung seperti mereka, malas dan pesimis.
Sikap rajin , hemat dan selalu ingin maju adalah salah satu kebiasaan orang sukses dan kaya. Sementara sikap malas dan boros baik itu boros terhadap waktu, tenaga dan harta yang dimiliki adalah sikap orang miskin. Dengan demikian maka benarlan judul diatas, “ Engkau tidak akan lebih kaya dari teman anda”.
Dengan melihat kenyataan diatas maka kita harus pandai-pandai didalam memilih teman akrab. Jika anda ingin menjadi orang yang sukses, kaya dan mulia maka berteman akrablah dengan orang-orang yang sudah mendapatkan gelar tersebut menurut pandangan anda. Jika anda merasa tertekan bergaul dengan mereka itu dikarenakan kebiasaan dan prinsip anda dengan mereka berbeda. Itu artinya prinsip dan kebiasaan anda harus diubah dan disesuaikan dengan kebiasaan mereka.
Jika anda tahan dan terus mau bergaul dengan mereka, saya yakin anda akan bisa menyamai mereka atau paling tidak dibawah sedikit dari mereka. Seandainya anda saat ini berada pada level 25 % kemudian anda bergaul dengan orang berlevel 100 %, bukankah itu berarti anda sudah sangat beruntung jika anda bisa naik menjadi 75 % saja?
Oleh karena itu mantapkah langkah anda untuk bergaul dengan orang-orang yang kesuksesannya juah berada diatas anda.
Mungkin barangkali anda merasa minder atau takut bergaul dengan orang-oarng sukses. Mana munkin mereka menerima kita. Mereka kan sibuk. Itu anggapan anda? Apakah mereka dekimikian. Ternyata tidak. Orang sukses memang sibuk tetapi mereka sangat menghargai orang lain dan berkeinginan kesusksesannya diturunkan pada orang lain.
Salam sukses. See you in the top
Membuka usaha itu Mudah....kalau mengurusnya ???
Apa kabar sahabat? semoga baik - baik saja. Sebagian kita dalam milist ini sangat terobsesi dengan cerita - cerita dahsyat dan luar biasa yang amat memancing jiwa muda yang bersemangat untuk segera action. Sebagian lain, sudah kapalan, bertahun - tahun menjalani bisnis. Jatuh - Bangun - Jatuh - Bangun persis lagunya Jande Al - Amin, Kristina.
Ada saja cerita tiap hari dari member TDA yang membuat sebagian lainnya tambah bersemangat. Big Winning bahkan small winning menjadi cerita bahagia. Yang sudah full TDA tambah semangat dan semlenget (panas berkobar - kobar), yang Amphibi makin ingin menancapkan satu kakinya lebih condong ke TDA, yang TDB makin bergairah, membuat surat pengunduran diri yang ke sekian kalinya.
Hampir tidak ada yang keliru dengan ide menjadi entrepreneuer,karena dalam kaitannya dengan penghidupan dan kerja, menjadi pengusaha sebetulnya hanya menyeraskan kemauan fikiran yang merdeka, tidak terikat tapi mengikat diri untuk sebuah kebebasan. Dasar dari wiraswasta sebetulnya juga bekerja, sebagaimana kita dulu (TDB) bekerja. Ada aturan, ada visi, misi, target dan hal lainnya. Cocok jika Valentino Dinsi mengambil judul "Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian". Buku itu tentu ditujukan untuk orang yang sudah gajian, para TDB, bukan orang yang tidak pernah menjadi TDB (belum pernah gajian). Sudah wajar adanya,mayoritas kita disini adalah TDB atau mantan TDB. Adakah yang belum pernah TDB sama sekali? Mungkin ada, tapi kecil sekali prosentasenya.
Karenanya kesamaan bentuk aktifitas kerjanya (mencapai target, mengelola pembukuan keuangan dst), menjadi TDB lebih dahulu untuk belajar juga bisa dijadikan langkah yang bagus (jika tidak direkomendasikan), bagi para calon pebisnis yang benar - benar baru pertama kalinya bersentuhan dengan dunia kerja. TDB menjadi semacam tempat pembanding dan belajar tentang : Bagaimana sebuah kerja dan target dijalankan dan dicapai. Hanya saja, harus melihat secara menyeluruh ketika menjadi TDB,bukan pada aktifitas satu posisi saja. Menjadi full TDA berarti harus mengerjakan multi-post seperti: Marketing, Keuangan dan Manajemen. Beda halnya dengan TDB yang cenderung satu posisi saja. Karenanya sekali lagi, selagi menjadi TDB, yang diperlukan adalah kemampuan belajar dari berbagai post dan posisi yang dipegang rekan kerja kita.
Membuka (dan Mengurus) Usaha
Uang pesangon siap sebagai modal, atau tabungan juga sudah cukup membuka satu pintu usaha, semangat dari milist membara, dorongan teman cukup, "cibiran" dari teman KMM makin tidak tertahan, peluang usaha silih berganti menjanjikan surga dollar yang berlipat. Bayangan memiliki usaha besar, rumah besar, mobil besar, kantor besar, waktu banyak, hadir di seminar - seminar pada jam kerja, atau menjadi donatur masjid dan anak yatim atau bayangan - bayangan yang seringkali tidak terjadi jika menjadi TDB, makin jelas terbayang tanpa cela.
Dalam kondisi ini, kondisi real tidak lagi penting. Apalagi ditambah artikel milist hari ini : Untuk sementara, letakkan otak di dengkul kita, bekerjalah!!. Maka otak pun benar - benar diletakkan di dengkul dan bekerja!!
----------- ----------- --------------- ------------ -----
Kejadian di atas tentu tidak sepenuhnya salah, jika benar terjadi. Bob Sadino bilang demikian, kerja dan kerja, Pak Jamil bilang, resepsi saja perlu proposal apalagi hidup! Nah Lo!!
Yang pasti tidak ada jaminan dari keduanya, yang mana yang akan "lebih mudah" menuai sukses. Ini karena kesuksesan, kata orang pintar, ditentukan oleh sikap yang benar (95%) dan skill yang bagus (5%). Tapi Billie PS Liem juga bilang Sukses itu 99% dari keringat (skill).
Dalam sebuah obrolan dengan Pak Roni di rumahnya, diungkapkan kalau banyak sekali dari member yang bahkan belum memiliki konsep bagaimana bisnisnya akan dikembangkan dikemudian hari. Konsep ini perlu sekali karena akan menyangkut langsung dengan bagaimana bisnis kita digarap, termasuk bahkan menentukan cost of production karena nilai jual kepada customer, kata Pak ROni, sebaiknya sudah termasuk biaya pengembangan.
Karenanya, mengurus usaha justru cenderung menjadi lebih menantang ketimbang membuka. Seperti disebutkan, hanya perlu meletakkan otak di dengkul lalu bekerja untuk mengawali bisnis, tapi tidak jika ingin mengembangkannya....
Lutfiel Hakim
YM : lelhakeem
www.speak2sucess.com
www.kursus-bahasa.com
Ada saja cerita tiap hari dari member TDA yang membuat sebagian lainnya tambah bersemangat. Big Winning bahkan small winning menjadi cerita bahagia. Yang sudah full TDA tambah semangat dan semlenget (panas berkobar - kobar), yang Amphibi makin ingin menancapkan satu kakinya lebih condong ke TDA, yang TDB makin bergairah, membuat surat pengunduran diri yang ke sekian kalinya.
Hampir tidak ada yang keliru dengan ide menjadi entrepreneuer,karena dalam kaitannya dengan penghidupan dan kerja, menjadi pengusaha sebetulnya hanya menyeraskan kemauan fikiran yang merdeka, tidak terikat tapi mengikat diri untuk sebuah kebebasan. Dasar dari wiraswasta sebetulnya juga bekerja, sebagaimana kita dulu (TDB) bekerja. Ada aturan, ada visi, misi, target dan hal lainnya. Cocok jika Valentino Dinsi mengambil judul "Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian". Buku itu tentu ditujukan untuk orang yang sudah gajian, para TDB, bukan orang yang tidak pernah menjadi TDB (belum pernah gajian). Sudah wajar adanya,mayoritas kita disini adalah TDB atau mantan TDB. Adakah yang belum pernah TDB sama sekali? Mungkin ada, tapi kecil sekali prosentasenya.
Karenanya kesamaan bentuk aktifitas kerjanya (mencapai target, mengelola pembukuan keuangan dst), menjadi TDB lebih dahulu untuk belajar juga bisa dijadikan langkah yang bagus (jika tidak direkomendasikan), bagi para calon pebisnis yang benar - benar baru pertama kalinya bersentuhan dengan dunia kerja. TDB menjadi semacam tempat pembanding dan belajar tentang : Bagaimana sebuah kerja dan target dijalankan dan dicapai. Hanya saja, harus melihat secara menyeluruh ketika menjadi TDB,bukan pada aktifitas satu posisi saja. Menjadi full TDA berarti harus mengerjakan multi-post seperti: Marketing, Keuangan dan Manajemen. Beda halnya dengan TDB yang cenderung satu posisi saja. Karenanya sekali lagi, selagi menjadi TDB, yang diperlukan adalah kemampuan belajar dari berbagai post dan posisi yang dipegang rekan kerja kita.
Membuka (dan Mengurus) Usaha
Uang pesangon siap sebagai modal, atau tabungan juga sudah cukup membuka satu pintu usaha, semangat dari milist membara, dorongan teman cukup, "cibiran" dari teman KMM makin tidak tertahan, peluang usaha silih berganti menjanjikan surga dollar yang berlipat. Bayangan memiliki usaha besar, rumah besar, mobil besar, kantor besar, waktu banyak, hadir di seminar - seminar pada jam kerja, atau menjadi donatur masjid dan anak yatim atau bayangan - bayangan yang seringkali tidak terjadi jika menjadi TDB, makin jelas terbayang tanpa cela.
Dalam kondisi ini, kondisi real tidak lagi penting. Apalagi ditambah artikel milist hari ini : Untuk sementara, letakkan otak di dengkul kita, bekerjalah!!. Maka otak pun benar - benar diletakkan di dengkul dan bekerja!!
----------- ----------- --------------- ------------ -----
Kejadian di atas tentu tidak sepenuhnya salah, jika benar terjadi. Bob Sadino bilang demikian, kerja dan kerja, Pak Jamil bilang, resepsi saja perlu proposal apalagi hidup! Nah Lo!!
Yang pasti tidak ada jaminan dari keduanya, yang mana yang akan "lebih mudah" menuai sukses. Ini karena kesuksesan, kata orang pintar, ditentukan oleh sikap yang benar (95%) dan skill yang bagus (5%). Tapi Billie PS Liem juga bilang Sukses itu 99% dari keringat (skill).
Dalam sebuah obrolan dengan Pak Roni di rumahnya, diungkapkan kalau banyak sekali dari member yang bahkan belum memiliki konsep bagaimana bisnisnya akan dikembangkan dikemudian hari. Konsep ini perlu sekali karena akan menyangkut langsung dengan bagaimana bisnis kita digarap, termasuk bahkan menentukan cost of production karena nilai jual kepada customer, kata Pak ROni, sebaiknya sudah termasuk biaya pengembangan.
Karenanya, mengurus usaha justru cenderung menjadi lebih menantang ketimbang membuka. Seperti disebutkan, hanya perlu meletakkan otak di dengkul lalu bekerja untuk mengawali bisnis, tapi tidak jika ingin mengembangkannya....
Lutfiel Hakim
YM : lelhakeem
www.speak2sucess.com
www.kursus-bahasa.com
Tukang cuci piring jadi Juragan RM Padang
*KOMPAS.com* - Himpitan ekonomi terkadang memaksa orang keluar dari kampung
asalnya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Banyak orang desa merantau
ke kota besar, sekadar untuk mengais sejumput rejeki.
Tak sedikit pula perantau yang menuai cerita sukses di tempat perantauan.
Salah satunya adalah Sono. Pria kelahiran Nganjuk, 46 tahun yang lalu ini,
merasakan bagaimana susahnya hidup di perantauan hingga menuai kesuksesan
seperti yang dialaminya sekarang ini.
Kini Sono dikenal sebagai bos dari empat rumah makan padang di sekitar
Melawai dan Senayan, dengan omzet per hari sekitar Rp 7 juta. Dengan
prestasinya itu, walau hanya lulusan SD, Sono mendapat penghargaan dari
Danamon Simpan Pinjam (DSP) sebagai salah satu nasabah yang terus tumbuh
omzetnya.
Keluarga sono di Nganjuk merupakan keluarga petani. Tak seperti kakak dan
adiknya, anak keempat dari enam bersaudara ini sewaktu muda sudah memutuskan
untuk keluar dari desanya demi memperbaiki ekonomi keluarganya. “Dari enam
kakak beradik, hanya saya yang memutuskan keluar kampung, yanglainnya masih
di desa bekerja sebagai petani,” ujarnya.
Ketika memutuskan merantau ke Jakarta tahun 1980-an, usia sono baru25 tahun.
“Kebetulan ada teman yang mengajak, saya antusias saja. Untuk modal ke
Jakarta saya cari uangdengan berjualan daun jagung lima pikul,” kenangnya.
Dari penjualan tersebut, Sono memperoleh Rp 5.000. “Rp 4.500 saya pakai
untuk beli tiket, sementara sisanya buat bertahan hidup di Jakarta,”
tuturnya.
Sesampainya di Jakarta, kenyataan yang dihadapinya berbeda dengan yang ada
di angan-angan sono. “Saya sempat menganggur dan luntang-lantung di Blok M,”
kenangnya.
Untungnya, ada seorang ibu asal Betawi yang berbaik hati memberikan
pekerjaan sebagai penjaga mobil. “Dari situ akhirnya saya dapat kerjaan
sebagai tukang cuci piring di rumah makan padang dengan gaji Rp 35.000
sebulan,” tuturnya.
Di rumah makan padang itu, sono belajar sedikit demi sedikit cara mengelola
rumah makan. Tak hanya itu, di tempat itu pula sono bertemu tambatan
hatinya, Yatmi, yang juga berasal dari Nganjuk.
Yatmi bekerja sebagai tukang bumbu. Mereka pun memutuskan menikah tahun
1986. Berbekal keterampilan Yatmi mengolah bumbu, mereka berdua kemudian
memberanikan dirimembuka sebuah rumah makan padang sendiri di daerah Kramat
Jati pada 1990. “Modalnya Rp 20 juta dari hasil tabungan saya,” ujar sono.
Dewi fortuna belum berpihak ke Sono.
Lantaran mempercayakan usahanya ke keponakan yang belum berpengalaman, tak
sampai setahun, usaha rumah makan padang Sono bangkrut. Sono dan Yatmi pun
memutuskan pulang kampung ke Nganjuk selama enam bulan. Di sana juga, putra
pertama mereka lahir.
Tak kuat menganggur, Sono dan Yatmi balik lagi ke Jakarta, bekerja sebagai
buruh cuci dan buruh masak di rumah makan padang yang baru. “Waktu itu, gaji
saya Rp 7.500 per hari, sementara istri dua kali lipatnya,” kenang sono.
*Tak patah arang
*
Keinginan untuk mengubah nasib mendorong Sono dan istrinya kembali datang ke
Jakarta. Dengan modal pinjaman, Sono mengawali kebangkitannya dengan
mengakuisisi usaha mie ayam milik sang teman.
Setelah pulang kampung ke Nganjuk, Jawa Timur, karena usaha rumah makan
padangnya bangkrut, Sono dan istri kembali datang ke Jakarta. Di ibukota, ia
kembali meniti hidup sebagai buruh cuci dan buruh masak di sebuah rumah
makan padang di kawasan Blok M. Setelah tujuh tahun mereka melakoni profesi
itu, pada 1999, kesempatan untuk mengubah nasib itu akhirnya datang juga.
Waktu itu, Indonesia sedang mengalami krisis moneter. Salah satu teman Sono,
yang berjualan mie ayam di kawasan Melawai, bangkrut. Sang teman lalu
menawarkan dua gerobak, peralatan pembuatan mie ayam, bangku buat duduk
pembeli, serta semua mangkuk dan sumpit kepada Sono.
Semuanya dihargai Rp 700.000. Sono langsung menyambar kesempatan ini. Karena
tabungannya hanya Rp 300.000, ia lalu berutang. Setelah proses akuisisi
selesai, muncul persoalan berikutnya: ia tak mempunyai modal untuk memulai
bisnis mie ayam.
Yatmi, sang istri, tak kehilangan akal. Dengan modal Rp 50.000, ia membeli
jagung, kacang, ubi dan pisang yang kemudian ia olah menjadi aneka makanan.
Selama tiga hari, sang istri nyambi berjualan makanan sembari menjalani
rutinitas sebagai buruh masak. Hasilnya, uang Rp 50.000 itu berbiak menjadi
Rp 150.000.
Dari duit inilah mereka mulai berjualan mie ayam. “Saya sampai ingat
harinya. Tanggal 23 bulan 10 tahun 99,” ujar bapak tiga anak ini penuh haru.
Ternyata, dagangan Sono laku keras. Bumbu mie ayam buatan Yatmi benar-benar
cocok dengan selera para pekerja di sekitar Melawai. “Jualan pertama, omzet
saya hanya Rp 73.000 per hari. Lama kelamaan naik jadi Rp 200.000 per hari,”
ujarnya.
Dari hasil jualan mie ayam, Yatmi dan Sono mengembangkan bisnis baru. Mereka
lalu bisnis nasi gulai dan lagi-lagi laku keras. Setelah gulai, mereka mulai
menambah menu masakan padang. “Mulanya hanya sepotong-sepotong, lama-lama
banyak juga,” ujar Sono. Dengan tambahan nasi gulai dan nasi padang, omzet
Sono naik jadi Rp 500.000 per hari. Keadaan ini berlangsung sampai setahun
kemudian.
Pada 2000, semua pedagang kaki lima di kawasan Blok M, terutama di sekitar
Melawai, diharuskan membeli kios. Waktu itu harga kios Rp 21,160 juta.
Karena tabungannya hanya Rp 1 juta saja, Sono mengajukan pinjaman ke PD
Pasar Jaya.
Tahun itu pula, Sono melepas bisnis mie ayam dan nasi gulainya. Ia fokus
berjualan nasi padang di Melawai, Blok M. Mereka menamai usahanya Rumah
Makan Padang Pak Son. “Omzetnya waktu itu sekitar Rp 2 juta per hari.
Sehingga, pada 2003, semua utang ke PD Pasar Jaya dan ke koperasi lunas,”
kenang bapak 46 tahun berbadan gempal ini. Dalam kurun waktu tersebut, Sono
juga meminjam modal dari Danamon Simpan Pinjam Rp 25 juta. Sampai akhir
2004, Sono dan istrinya bisa membuka cabang nasi padang di Melawai Plaza.
Waktu itu, untuk menyewa tempat, Sono butuh Rp 2 juta per bulan.
*Kiosnya terbakar
*Namun, malang bagi Sono, pada 2005 kebakaran hebat melanda Blok M. Tak
terkecuali kiosnya yang ikut terbakar. Akibat kejadian itu, Sono dan istri
pun harus rela berjualan di lapak penampungan hingga tahun 2008. Meski
begitu, justru sejak itulah usahanya terus meningkat. Sebab, ketika banyak
pedagang kaki lima memprotes pembangunan pusat perbelanjaan modern Blok M
Square, Sono justru menuai berkah dari pembangunan mal tersebut. Lantaran,
banyak pekerja proyek mal tersebut menjadi pelanggan di rumah makan padang
miliknya.
Akibatnya, omzet penjualannya meningkat menjadi sekitar Rp 5 juta per hari.
Dengan modal tersebut, Sono mengembangkan rumah makannya hingga menjadi enam
cabang. Lima rumah makan berada di sekitar Melawai, Blok M. Satu cabang lain
ada di kawasan Senayan.”Untuk mengelola rumah-rumah makan itu, saya mendidik
dulu para keponakan. Karena saya tidak mau peristiwa kebangkrutan tahun 1991
terulang,” ujarnya.
Sono mendatangkan seluruh karyawannya dari Nganjuk. Dengan demikian, Sono
merasa sudah memberikan kontribusi untuk mengangkat keluarganya yang
sebagian besar berprofesi sebagai petani. “Lucu juga, ya, dagangnya masakan
padang, tapi yang punya dan yang melayani jualan orang Nganjuk,” ujar bapak
tiga anak ini sembari terkekeh.
Untuk menambah modal usaha serta memperbanyak kiosnya, sejak tahun 2004,
Sono sudah lima kali meminjam dari Danamon Simpan Pinjam (DSP). Terakhir, ia
mendapatkan dana sebesar Rp 200 juta yang ia gunakan untuk membeli rumah di
Radio Dalam dan mobil untuk menunjang bisnisnya. Rumah itu ia gunakan
sebagai dapur, tempat Sono dan Yatmi beserta tiga orang karyawannya mengolah
aneka lauk serta memasak satu kuintal nasi untuk kemudian disetorkan ke enam
rumah makan mereka.
Keenam rumah makan itu rata-rata memberikan omzet Rp 1 juta hingga Rp 5 juta
per hari. Sayangnya, di bulan puasa 2008, lapak-lapak penampungan Blok M
dibongkar pemda dan pengurus pasar. Kawasan Blok M Square pun ditata lebih
rapi.
Akibatnya, Sono harus rela berpindah tempat. Beruntung, Sono sudah
mempersiapkan tempat yang baru. “Sebelum pembongkaran, saya kontrak tiga los
kios di Jalan Hasanudin 26, Melawai, seharga Rp 9 juta per bulan,” ujarnya.
Meski begitu, tetap saja ia harus merelakan dua lapaknya hilang. Hingga
akhirnya, rumah makannya tinggal empat saja, yakni di jalan Hasanudin, di
dekat Melawai Plaza, kawasan basket Melawai, dan terakhir di kawasan
Senayan.
Lantaran tidak ada pekerja proyek lagi, omzet rumah makan padang Sono di
jalan Hasanudin berkurang dari Rp 5 jutaan jadi Rp 4 jutaan per hari. Namun,
hal itu tidak mempengaruhi kondisi keuangan Sono. Ketiga rumah makan lainnya
masih memberikan omzet sekitar Rp 1 jutaan per hari. Total omzet Sono saat
ini mencapai Rp 7 juta per hari dengan marjin laba mencapai 30 persen.
Sukses Sono menginspirasi sang anak sulungnya untuk mandiri berwiraswasta
membuka bengkel. Tapi, Sono masih memiliki impian yang belum tercapai, yakni
mempunyai rumah makan padang besar setara rumah makan Sederhana yang khusus
melayani kelas menengah atas. “Saya sedang mencari lahannya,” ujarnya.
*(Aprillia
Ika/Kontan)*
--
Wassalam,
Badroni Yuzirman,
To live, to love, to learn and to leave a legacy...
www.manetvision.com
www.roniyuzirman.com
www.twitter.com/roniyuzirman
asalnya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Banyak orang desa merantau
ke kota besar, sekadar untuk mengais sejumput rejeki.
Tak sedikit pula perantau yang menuai cerita sukses di tempat perantauan.
Salah satunya adalah Sono. Pria kelahiran Nganjuk, 46 tahun yang lalu ini,
merasakan bagaimana susahnya hidup di perantauan hingga menuai kesuksesan
seperti yang dialaminya sekarang ini.
Kini Sono dikenal sebagai bos dari empat rumah makan padang di sekitar
Melawai dan Senayan, dengan omzet per hari sekitar Rp 7 juta. Dengan
prestasinya itu, walau hanya lulusan SD, Sono mendapat penghargaan dari
Danamon Simpan Pinjam (DSP) sebagai salah satu nasabah yang terus tumbuh
omzetnya.
Keluarga sono di Nganjuk merupakan keluarga petani. Tak seperti kakak dan
adiknya, anak keempat dari enam bersaudara ini sewaktu muda sudah memutuskan
untuk keluar dari desanya demi memperbaiki ekonomi keluarganya. “Dari enam
kakak beradik, hanya saya yang memutuskan keluar kampung, yanglainnya masih
di desa bekerja sebagai petani,” ujarnya.
Ketika memutuskan merantau ke Jakarta tahun 1980-an, usia sono baru25 tahun.
“Kebetulan ada teman yang mengajak, saya antusias saja. Untuk modal ke
Jakarta saya cari uangdengan berjualan daun jagung lima pikul,” kenangnya.
Dari penjualan tersebut, Sono memperoleh Rp 5.000. “Rp 4.500 saya pakai
untuk beli tiket, sementara sisanya buat bertahan hidup di Jakarta,”
tuturnya.
Sesampainya di Jakarta, kenyataan yang dihadapinya berbeda dengan yang ada
di angan-angan sono. “Saya sempat menganggur dan luntang-lantung di Blok M,”
kenangnya.
Untungnya, ada seorang ibu asal Betawi yang berbaik hati memberikan
pekerjaan sebagai penjaga mobil. “Dari situ akhirnya saya dapat kerjaan
sebagai tukang cuci piring di rumah makan padang dengan gaji Rp 35.000
sebulan,” tuturnya.
Di rumah makan padang itu, sono belajar sedikit demi sedikit cara mengelola
rumah makan. Tak hanya itu, di tempat itu pula sono bertemu tambatan
hatinya, Yatmi, yang juga berasal dari Nganjuk.
Yatmi bekerja sebagai tukang bumbu. Mereka pun memutuskan menikah tahun
1986. Berbekal keterampilan Yatmi mengolah bumbu, mereka berdua kemudian
memberanikan dirimembuka sebuah rumah makan padang sendiri di daerah Kramat
Jati pada 1990. “Modalnya Rp 20 juta dari hasil tabungan saya,” ujar sono.
Dewi fortuna belum berpihak ke Sono.
Lantaran mempercayakan usahanya ke keponakan yang belum berpengalaman, tak
sampai setahun, usaha rumah makan padang Sono bangkrut. Sono dan Yatmi pun
memutuskan pulang kampung ke Nganjuk selama enam bulan. Di sana juga, putra
pertama mereka lahir.
Tak kuat menganggur, Sono dan Yatmi balik lagi ke Jakarta, bekerja sebagai
buruh cuci dan buruh masak di rumah makan padang yang baru. “Waktu itu, gaji
saya Rp 7.500 per hari, sementara istri dua kali lipatnya,” kenang sono.
*Tak patah arang
*
Keinginan untuk mengubah nasib mendorong Sono dan istrinya kembali datang ke
Jakarta. Dengan modal pinjaman, Sono mengawali kebangkitannya dengan
mengakuisisi usaha mie ayam milik sang teman.
Setelah pulang kampung ke Nganjuk, Jawa Timur, karena usaha rumah makan
padangnya bangkrut, Sono dan istri kembali datang ke Jakarta. Di ibukota, ia
kembali meniti hidup sebagai buruh cuci dan buruh masak di sebuah rumah
makan padang di kawasan Blok M. Setelah tujuh tahun mereka melakoni profesi
itu, pada 1999, kesempatan untuk mengubah nasib itu akhirnya datang juga.
Waktu itu, Indonesia sedang mengalami krisis moneter. Salah satu teman Sono,
yang berjualan mie ayam di kawasan Melawai, bangkrut. Sang teman lalu
menawarkan dua gerobak, peralatan pembuatan mie ayam, bangku buat duduk
pembeli, serta semua mangkuk dan sumpit kepada Sono.
Semuanya dihargai Rp 700.000. Sono langsung menyambar kesempatan ini. Karena
tabungannya hanya Rp 300.000, ia lalu berutang. Setelah proses akuisisi
selesai, muncul persoalan berikutnya: ia tak mempunyai modal untuk memulai
bisnis mie ayam.
Yatmi, sang istri, tak kehilangan akal. Dengan modal Rp 50.000, ia membeli
jagung, kacang, ubi dan pisang yang kemudian ia olah menjadi aneka makanan.
Selama tiga hari, sang istri nyambi berjualan makanan sembari menjalani
rutinitas sebagai buruh masak. Hasilnya, uang Rp 50.000 itu berbiak menjadi
Rp 150.000.
Dari duit inilah mereka mulai berjualan mie ayam. “Saya sampai ingat
harinya. Tanggal 23 bulan 10 tahun 99,” ujar bapak tiga anak ini penuh haru.
Ternyata, dagangan Sono laku keras. Bumbu mie ayam buatan Yatmi benar-benar
cocok dengan selera para pekerja di sekitar Melawai. “Jualan pertama, omzet
saya hanya Rp 73.000 per hari. Lama kelamaan naik jadi Rp 200.000 per hari,”
ujarnya.
Dari hasil jualan mie ayam, Yatmi dan Sono mengembangkan bisnis baru. Mereka
lalu bisnis nasi gulai dan lagi-lagi laku keras. Setelah gulai, mereka mulai
menambah menu masakan padang. “Mulanya hanya sepotong-sepotong, lama-lama
banyak juga,” ujar Sono. Dengan tambahan nasi gulai dan nasi padang, omzet
Sono naik jadi Rp 500.000 per hari. Keadaan ini berlangsung sampai setahun
kemudian.
Pada 2000, semua pedagang kaki lima di kawasan Blok M, terutama di sekitar
Melawai, diharuskan membeli kios. Waktu itu harga kios Rp 21,160 juta.
Karena tabungannya hanya Rp 1 juta saja, Sono mengajukan pinjaman ke PD
Pasar Jaya.
Tahun itu pula, Sono melepas bisnis mie ayam dan nasi gulainya. Ia fokus
berjualan nasi padang di Melawai, Blok M. Mereka menamai usahanya Rumah
Makan Padang Pak Son. “Omzetnya waktu itu sekitar Rp 2 juta per hari.
Sehingga, pada 2003, semua utang ke PD Pasar Jaya dan ke koperasi lunas,”
kenang bapak 46 tahun berbadan gempal ini. Dalam kurun waktu tersebut, Sono
juga meminjam modal dari Danamon Simpan Pinjam Rp 25 juta. Sampai akhir
2004, Sono dan istrinya bisa membuka cabang nasi padang di Melawai Plaza.
Waktu itu, untuk menyewa tempat, Sono butuh Rp 2 juta per bulan.
*Kiosnya terbakar
*Namun, malang bagi Sono, pada 2005 kebakaran hebat melanda Blok M. Tak
terkecuali kiosnya yang ikut terbakar. Akibat kejadian itu, Sono dan istri
pun harus rela berjualan di lapak penampungan hingga tahun 2008. Meski
begitu, justru sejak itulah usahanya terus meningkat. Sebab, ketika banyak
pedagang kaki lima memprotes pembangunan pusat perbelanjaan modern Blok M
Square, Sono justru menuai berkah dari pembangunan mal tersebut. Lantaran,
banyak pekerja proyek mal tersebut menjadi pelanggan di rumah makan padang
miliknya.
Akibatnya, omzet penjualannya meningkat menjadi sekitar Rp 5 juta per hari.
Dengan modal tersebut, Sono mengembangkan rumah makannya hingga menjadi enam
cabang. Lima rumah makan berada di sekitar Melawai, Blok M. Satu cabang lain
ada di kawasan Senayan.”Untuk mengelola rumah-rumah makan itu, saya mendidik
dulu para keponakan. Karena saya tidak mau peristiwa kebangkrutan tahun 1991
terulang,” ujarnya.
Sono mendatangkan seluruh karyawannya dari Nganjuk. Dengan demikian, Sono
merasa sudah memberikan kontribusi untuk mengangkat keluarganya yang
sebagian besar berprofesi sebagai petani. “Lucu juga, ya, dagangnya masakan
padang, tapi yang punya dan yang melayani jualan orang Nganjuk,” ujar bapak
tiga anak ini sembari terkekeh.
Untuk menambah modal usaha serta memperbanyak kiosnya, sejak tahun 2004,
Sono sudah lima kali meminjam dari Danamon Simpan Pinjam (DSP). Terakhir, ia
mendapatkan dana sebesar Rp 200 juta yang ia gunakan untuk membeli rumah di
Radio Dalam dan mobil untuk menunjang bisnisnya. Rumah itu ia gunakan
sebagai dapur, tempat Sono dan Yatmi beserta tiga orang karyawannya mengolah
aneka lauk serta memasak satu kuintal nasi untuk kemudian disetorkan ke enam
rumah makan mereka.
Keenam rumah makan itu rata-rata memberikan omzet Rp 1 juta hingga Rp 5 juta
per hari. Sayangnya, di bulan puasa 2008, lapak-lapak penampungan Blok M
dibongkar pemda dan pengurus pasar. Kawasan Blok M Square pun ditata lebih
rapi.
Akibatnya, Sono harus rela berpindah tempat. Beruntung, Sono sudah
mempersiapkan tempat yang baru. “Sebelum pembongkaran, saya kontrak tiga los
kios di Jalan Hasanudin 26, Melawai, seharga Rp 9 juta per bulan,” ujarnya.
Meski begitu, tetap saja ia harus merelakan dua lapaknya hilang. Hingga
akhirnya, rumah makannya tinggal empat saja, yakni di jalan Hasanudin, di
dekat Melawai Plaza, kawasan basket Melawai, dan terakhir di kawasan
Senayan.
Lantaran tidak ada pekerja proyek lagi, omzet rumah makan padang Sono di
jalan Hasanudin berkurang dari Rp 5 jutaan jadi Rp 4 jutaan per hari. Namun,
hal itu tidak mempengaruhi kondisi keuangan Sono. Ketiga rumah makan lainnya
masih memberikan omzet sekitar Rp 1 jutaan per hari. Total omzet Sono saat
ini mencapai Rp 7 juta per hari dengan marjin laba mencapai 30 persen.
Sukses Sono menginspirasi sang anak sulungnya untuk mandiri berwiraswasta
membuka bengkel. Tapi, Sono masih memiliki impian yang belum tercapai, yakni
mempunyai rumah makan padang besar setara rumah makan Sederhana yang khusus
melayani kelas menengah atas. “Saya sedang mencari lahannya,” ujarnya.
*(Aprillia
Ika/Kontan)*
--
Wassalam,
Badroni Yuzirman,
To live, to love, to learn and to leave a legacy...
www.manetvision.com
www.roniyuzirman.com
www.twitter.com/roniyuzirman
Langganan:
Postingan (Atom)